Hadiah Perekat Jiwa



Senja musim panas sungguh indah meskipun tetap tidak seindah musim semi. Aku membuka jendela kamar lebar-lebar. Semburat mega kemerahan menghiasi langit. Bau uap pasir masih terasa. Angin bertiup semilir seolah menghapus hawa panas. Jendela Maria kelihatannya juga terbuka. Habis maghrib paling enak memang membuka jendela. Membiarkan angin semilir mengalir. Sayup-sayup aku mendengar Maria bernyanyi.
Kalimatin laisat kal kalimaat!
Ia melantunkan lagu Majida Rumi dengan sangat indah. Suara Maria memang seindah suara penyanyi tersohor dari Lebanon itu.

Di kamar sebelah Saiful masih membaca An-Naml. Spontan aku menangkap makna ayat-ayat yang dibaca Saiful. Seekor semut berseru pada teman-temannya, “Hai semut-semut sekalian cepat masuklah ke dalam liang kalian. Sebentar lagi Sulaiman dan bala tentaranya akan lewat, kalian bisa terinjak kaki mereka dan mereka sama sekali tidak merasa menginjak kalian!” Nabi Sulaiman ternyata mendengar dan mengerti apa yang diucapkan semut itu. Nabi Sulaiman tersenyum. Aku pun tersenyum.
Aku duduk di depan meja belajar. Menulis beberapa baris kalimat indah untuk Yousef dan Madame Nahed dalam dua kertas berbeda. Masing-masing kumasukkan amplop. Dan kumasukkan dalam dua kardus kecil yang siap kubungkus. Hamdi dan Rudi masuk.
“Katanya mau membuat konferensi pers Mas?” canda Hamdi. Rudi cengar-cengir.
“Panggil Saiful sekalian!” sahutku tenang. Agaknya Saiful mendengar pembicaraan kami. Dia menyudahi bacaan Al-Qur’annya dan menyahut, “I’m coming!”
“Rud, tolong sambil kau bantu membungkus yang satu! Kau ‘kan jagonya membungkus kado,” pintaku pada Rudi.
“Beres Mas.”
Sambil membungkus kado aku menjelaskan untuk siapa kado ini sebenarnya. “Kita mengamalkan hadits Nabi, Tahaadu tahaabbu! Salinglah kalian memberi hadiah maka kalian akan saling mencintai! Ini waktu yang tepat untuk memberikan kejutan pada tetangga kita yang baik itu. Mereka sering sekali memberi makanan dan minuman kepada kita. Mereka juga perhatian pada kita. Jadi begitu sesungguhnya. Bukan untuk calon isteri. Jangan berprasangka sebab sebagian prasangka itu dosa!”
Mereka semua menganggukkan kepala. Rudi minta maaf. Kubalas dengan senyum.
“Kapan kado ini akan disampaikan Mas?” tanya Saiful.
“Insya Allah nanti menjelang mereka tidur,” jawabku.
“Bagaimana kita tahu mereka mau tidur?” sahut Hamdi.
“Jika aku mendengar Maria menutup jendela, biasanya dia siap untuk tidur. Dan Maria bilang mamanya selalu tidurnya lebih lambat darinya.”
* * *
Kira-kira pukul sebelas kudengar suara jendela ditutup. Itu Maria. Dua menit kemudian kukirim pesan ke nomor handphone-nya:
“Kalau mau tidur jangan lupa doa! Semoga mimpi bertemu Al-Masih.”
Tak lama kemudian datang balasan,
“Bagaimana kamu tahu aku akan tidur?”
Kujawab,
“Firasat orang beriman banyak benarnya.”
“Kau benar. Selamat malam.”
Saatnya telah tiba.
Kuajak teman-teman semua ke atas. Ke rumah Maria. Aku yakin Yousef dan Madame Nahed belum tidur. Tuan Boutros mungkin baru akan tidur. Kami menekan bel dua kali. Yousef membuka pintu dan melongok.
“Oh kalian. Ada perlu?” tanya Yousef. Ia belum melihat hadiah yang kami bawa.
“Mama ada? Kami perlu bicara dengan beliau,” tukasku.
“Ayo masuk.”
Yousef ke dalam memanggil mamanya. Tak lama kemudian Madame Nahed keluar dengan sedikit kaget. Biasanya kami selalu berurusan dengan Tuan Boutros atau Maria. Jarang sekali dengan beliau.
“Malam-malam begini mencari saya ada apa ya? Apa ada yang sakit?”
tanya beliau yang memang seorang dokter, tapi tidak praktek di rumah.
“Maafkan kami Madame, jika kedatangan kami mengganggu. Kami datang untuk mengungkapkan rasa cinta dan hormat kami pada keluarga ini. Kebetulan kami telah menyiapkan hadiah ala kadarnya. Ini untuk Madame dan yang satunya untuk Yousef. Hadiah sederhana untuk ulang tahun Madame dan Yousef. Kami mendoakan semoga Madame dan Yousef bahagia dan berjaya.” Aku menjelaskan maksud kedatanganku dan teman-teman.
Madame Nahed benar-benar terkejut. Ia menerima hadiah itu dengan mata berkaca-kaca. Yousef mengucapkan terima kasih tiada terhingga. Setelah itu kami mohon diri meskipun Madame Nahed ingin kami minum kopi dulu.
“Kami tahu sudah saatnya istirahat. Kami tidak ingin istirahat Madame dan Yousef terganggu.”
Madame Nahed tidak bisa mengucapkan apa-apa kecuali terima kasih berkali-kali. Saat kami menuruni tangga, kami mendengar Madame Nahed berteriak-teriak senang memanggil Maria dan Tuan Boutros. Selanjutkan kami tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah Madame Nahed itu.
Ketika aku bersiap untuk tidur, handphone-ku memekik. Ada pesan masuk. Kubaca. Dari Maria,
“Apa yang kalian lakukan sampai membuat Mama menangis haru?”
Aku merasa tidak perlu menjawab. Hatiku mengucapkah puji syukur kepada Tuhan berkali-kali. Tidak sia-sia rasanya panas-panas ke Attaba.
Maria kembali mengirim pesan,
“Hai orang Indonesia, kenapa tidak dijawab? Kau sudah tidur ya?”
Aku jawab, “Ya.”
Apa pesan masuk lagi. Tidak kulihat. Aku harus istirahat. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca aku belum pernah memberikan kado pada ibuku sendiri di Indonesia. Sebelum kenal Kairo aku adalah orang desa yang tidak kenal yang namanya kado. Di desa hadiah adalah membagi rizki pada tetangga agar semua mencicipi suatu nikmat anugerah Gusti Allah. Jika ada yang panen mangga ya semua tetangga dikasih biar ikut merasakan. Ulang tahun tidak pernah diingat- ingat oleh orang desa. Yang diingat adalah netu, atau hari lahir menurut hitungan Jawa, misalnya Kamis Pon, Jum’at Wage dan seterusnya. Pada hari itu, seperti yang kuingat waktu kecil dulu, ibu akan membuat bubur merah atau makanan lengkap dengan lauk-pauknya di letakkan di atas tampah yang telah dialasi dengan daun pisang. Tampah adalah wadah seperti nampan bundar besar yang terbuat dari bambu Di bawah daun pisang ibu meletakkan uang recehan banyak sekali. Setelah siap semua teman-temanku dipanggil untuk makan bersama.
Sebelum makan ibu mengingatkan agar kami tidak lupa membaca basmalah bersama. Jika Mbah San kebetulan ada, ibu akan minta Mbak Ehsan berdoa dan kami, anak-anak, mengamininya. Barulah kami makan berramai- ramai. Setelah makanannya habis kami akan membuka daun pisang yang tadi dibuat alas makan. Lalu kami berebutan mengambil uang receh dengan serunya. Semua kebagian. Sebab jika ada yang dapat uang lebih dan ada yang tidak dapat maka sudah jadi kewajiban yang dapat lebih untuk membaginya pada yang tidak dapat. Biasanya ibu sudah menghitung jumlah anak yang akan diundang dan uangnya sesuai dengan jumlah anak itu. Jadi semuanya dapat jatah sama. Sebenarnya kami tahu jatah uang logamnya satu-satu. Tapi selalu saja dibuat rebutan dahulu. Masa kecil yang seru. Begitulah cara ibu-ibu di desaku menyenangkan hati anak-anak kecil. Kenangan indah yang tiada terlupakan. Lebih indah dari pesta meniup lilin dan bernyanyi happy bird day to you.
Pernah ada kiai muda dalam suatu pengajian di surau melarang ibu-ibu membuat pesta untuk anak-anak seperti itu. Katanya itu bid’ah. Ibu-ibu bingung dan lapor pada Mbah Ehsan. Mbah Ehsan yang pernah belajar di Pesantren Mambaul Ulum Surakarta itu hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa, tidak bid’ah, malah dapat pahala menyenangkan anak kecil. Kanjeng Nabi adalah teladan. Beliau paling suka menyenangkan hati anak kecil.
Ketika aku sudah sampai Mesir, dan setelah membaca kitab Al I’tisham karangan Imam Syathibi dan kitab As-Sunnah Wal Bid’ah yang ditulis Syaikh Yusuf Qaradhawi aku merenungkan kembali jawaban Mbah Ehsan. Sungguh suatu jawaban yang sangat arif. Sungguh tidak mudah untuk membid’ahkan suatu perbuatan terpuji yang tiada larangan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Sungguh tidak bijak bertindak sembarangan menghukumi orang.
Pada kenyataannya, ibu-ibu di desa tidak pernah menganggap pesta pada netu anaknya sebagai suatu kewajiban agama yang harus dilakukan. Yang jika dilakukan dapat pahala jika tidak dapat dosa. Atau sebagai ibadah sunah, jika dilakukan dapat pahala jika ditinggal tidak apa-apa. Tidak ada anggapan itu masuk bagian dari ajaran agama. Apa yang dilakukan ibu-ibu di desa tak lebih dari ungkapan rasa sayangnya pada anaknya. Ia ingin anaknya merasa senang. Dan teman anak-anaknya juga senang. Itu saja.
Orang desa adalah orang yang hidupnya susah dan pas-pasan. Jika punya kelebihan rizki sedikit saja ingin berbagi kepada sesama. Ibu-ibu ingin menanamkan hal itu dalam jiwa anak-anaknya. Ketika seorang ibu di desa memiliki rizki ia ingin membahagiakan anaknya. Membuatkan sesuatu yang istimewa untuk anaknya. Tapi ia juga ingin anaknya membagi kebahagiaan dengan teman-temannya. Maka dibuatlah makanan yang agak banyak untuk dibancak bersama-sama. Adapun itu dipaskan dengan hari netu anaknya adalah agar anaknya merasa memiliki sesuatu istimewa. Ia merasa dihormati, dicintai dan disayangi. Hari itu ia merasa memiliki rasa percaya diri. Ia merasa ada sebagai manusia. Ia didoakan oleh teman-temannya yang mengamini doa Mbah Ehsan. Atau ia merasa ketika seluruh teman-temannya membaca basmalah bersama- sama, itu adalah doa mereka untuk dirinya. Pada hari itu anak orang paling miskin di suatu desa sekalipun akan tumbuh rasa percaya dirinya. Sebab anak orang kaya ikut serta makan satu nampan dengan seluruh anak-anak yang ada. Anak orang kaya makan pada nampan yang dibuat ibunya untuk dirinya pada hari istimewanya. Ia tidak merasa rendah diri. Seluruh anak-anak desa merasa sama. Makan bersama. Cuil mencuil tempe. Saling tarik menarik secuil rambak. Dan tertawa bersama. Lalu rebutan uang receh dan saling berbagi. Orang-orang desa adalah orang-orang susah dan mereka kaya akan cara menutupi kesusahan mereka dan menyulapnya menjadi kebahagian yang bisa dirasakan bersama-sama.
* * *
Pagi usai shalat shubuh ada orang menekan bel. Ternyata Yousef. Ia datang untuk sekali lagi mengucapkan terima kasih dan mengabarkan kami sesuatu,
“Mama ingin membuat pesta ulang tahun kami berdua di sebuah Villa di Alexandria. Kalian satu rumah kami undang. Semua ongkos perjalanan jangan dipikirkan Mama sudah siapkan,” ucapnya dengan mata berbinar-binar. Kulihat wajah teman-teman cerah. Wisata gratis ke Alexandria siapa tidak mau. Lain dengan diriku. Bulan ini jadwalku padat sekali. Terjemahan belum selesai. Proposal tesis. Mengaji dengan Syaikh Utsman yang sangat sayang jika aku tinggalkan, meskipun cuma satu hari. Dan lain sebagainya. Aku merasa tidak bisa ikut. Tapi aku pura-pura bertanya,
“Kapan?”
“Minggu depan. Menurut ramalan cuaca sudah tidak terlalu panas. Rencananya berangkat Sabtu, setengah dua siang. Menginap di sana semalam. Minggu sore sebelum maghrib baru pulang. Bagaimana, kalian bisa ‘kan? Kalian ‘kan masih libur?” kata Yousef.
Meskipun wajah teman-teman tampak cerah, tapi mereka tidak spontan menjawab. Mereka sangat menghargai diriku sebagai kepala rumah tangga dan sebagai yang tertua.
“Kurasa teman-teman bisa ikut. Tapi mohon maaf, saya tidak bisa. Sebab jadwal saya padat sekali. Terus terang saya sedang menyelesaikan proyek terjemahan dan sedang menggarap proposal tesis. Sampaikan hal ini pada Mama ya?” jawabku.
“Mas, kenapa tidak diluangkan satu hari saja sih. Kasihan mereka ‘kan?” sahut Rudi.
“Rud, semua orang punya skala prioritas. Banyak hal penting di hadapan kita, tapi kita tentu memilih yang paling penting dari yang penting. Aku punya kewajiban menyelesaikan kontrak. Itu yang harus aku dahulukan daripada ikut ke Alex. Jika ada rencana yang tertunda dua hari saja, maka akan banyak rencana yang rusak. Tolonglah pahami aku. Silakan kalian ikut aku tidak apa-apa. Sungguh!” jelasku mohon pengertian teman-teman satu rumah. Yousef mengerti semua yang aku katakan sebab Rudi dan aku mengatakannya dalam bahasa Arab.
“Baiklah. Akan aku sampaikan ini pada Mama,” ujar Yousef sambil bangkit minta diri. Aku beranjak ke kamar untuk menyalakan komputer.
Sementara Saiful ke dapur untuk piket masak. Rudi dan Hamdi tetap di ruang tamu membaca-baca koran yang kemarin kubeli.
Baru saja aku mengetik tujuh baris. Bel kembali berbunyi.
“Mas Fahri, Yousef!” teriak Hamdi. Aku bergegas ke depan.
“Begini Fahri. Setelah aku beritahukan semuanya, Mama memutuskan untuk membatalkan rencana ke Alex,” ucap Yousef dengan kerut muka sedikit kecewa.
“Kenapa?”
“Karena kau tidak bisa ikut.”
“Kan acara tetap bisa berjalan dengan baik tanpa keikutsertaanku.”
“Pokoknya itu keputusan mama.”
Ana asif jiddan! Wallahi, ana asif jiddan!72 ” ucapku sedih. Sebetulnya aku tidak ingin mengecewakan siapapun juga.
“Tak apa-apa. Mama ingin menggantinya dengan sebuah acara yang tidak akan menyita waktu banyak. Dan untuk acara ini mama minta dengan sangat kalian bisa ikut semua. Sekali lagi dengan sepenuh permohonan, tidak boleh ada yang tidak bisa.”
“Acaranya apa, dan kapan?”
“Kami sekeluarga akan mengajak kalian sekeluarga ke sebuah restaurant
di Maadi untuk makan malam. Kalian tidak boleh menolak. Begitu pesan mama.” Aku berpikir sejenak.
“Sudahlah Mas. Untuk yang ini sedikit toleranlah. Masak jadwal menerjemahnya ketat buanget sih!” desak Hamdi.
“Baiklah. Insya Allah, kami sekeluarga bisa. Jam berapa kita berangkat?”
kulihat wajah Yousef lebih cerah. Ia tersenyum.
“Setelah kalian shalat maghrib kita langsung berangkat. Biar tidak kemalaman,” ucapnya senang.
“Waktu yang tepat sekali,” gumamku.
“Kalau begitu aku naik dulu. Terima kasih atas kesediaannya.”
“Terima kasih atas ajakannya.”
72 Aku menyesal sekali. Demi Allah, saya sangat menyesal.
Hamdi, Rudi, dan Saiful tersenyum riang.
“Wah lumayan. Pengiritan uang dapur,” kata Saiful.
“Sekali-kali kita makan di restaurant mewah, masak cuma bisa makan qibdah 35 piaster,” sahut Rudi.
“Memang enaknya punya tetangga baik,” tukas Hamdi.
“ Hei, jangan lupa sama teman. Si Mishbah diberi tahu suruh pulang. Harus sampai rumah sebelum maghrib.” Selorohku sambil berjalan masuk kamar untuk kembali menerjemah. Tak lama kemudian kudengar Si Hamdi berbicara di telpon. Mishbah akan pulang selepas shalat ashar.
Baru lima halaman Rudi berteriak, “Mas Fahri telpon from the true coise!” Rudi itu masih meledek aku rupanya ia menyebut Nurul “the true coise”. The true coise bagi siapa? Aku mendesah panjang. Pagi-pagi mau tenang sedikit saja tidak bisa. Kuangkat gagang telpon, “Halo. Siapa ya?”
“Alah, udah tahu pura-pura tanya pula!” celetuk Rudi dengan logat
Medannya yang membuat telingaku terasa gatal. Anak ini resek sekali.
“Ini Nurul. Ini dengan Kak Fahri ya?” suara di seberang sana.
“Ya. Kemarin katanya nelpon ya?Ada apa?”
“Ah enggak. Kemarin sebetulnya ada yang ingin Nurul tanyakan, tapi jawabannya sudah ketemu.”
“Lha ini nelpon ada apa?”
“Tentang Noura.”
“Ada apa dengan Noura?”
“Tadi malam dia sudah menceritakan semuanya pada saya. Dia memang gadis yang malang. Ceritanya sangat mengenaskan.”
“Bagaimana ceritanya?”
“Maaf Kak, aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Sangat panjang.”
“Oh aku paham. Kau tutup saja telponmu. Biar aku yang telpon.”
“Bukan pulsa masalahnya Kak.”
“Terus enaknya bagaimana?”
“Sore nanti kami, pengurus Wihdah diundang Pak Atdikbud di rumahnya yang dekat SIC. Kakak bisa nggak ke SIC jam lima?”
“Sayang nggak bisa Nur.”
“Terus bagaimana?”
“Minggu-minggu ini jadwalku padat. Susah meluangkan waktu buat appoinment baru. Bagaimana kalau segala yang diceritakan Noura kau tulis saja semuanya. Pakai tulisan tangan tidak apa-apa. Kulihat cerpenmu pernah nampang di bulletin Citra. Kayaknya lebih praktis. Lebih enak. Tapi kalau bisa secepatnya.”
“Akan Nurul usahakan. Kapan Kakak ingin mengambilnya?”
Aku berpikir sejenak. Kapan aku akan keluar ke Nasr City. Satu minggu lagi. Terlalu lama. Oh ya, aku ingat, Mishbah masih di wisma dia akan pulang selepas shalat ashar. Dan Rudi setelah makan pagi nanti akan pergi ke Wisma untuk diskusi.
“Kalau kau bisa menulisnya sekarang juga, habis zhuhur aku bisa minta teman untuk mengambilnya.”
“Insya Allah bisa. Siapa nanti yang mengambil Kak?”
“Kalau tidak Mishbah ya Rudi.”
“Bilang jangan lebih jam tiga. Aku sudah tidak dirumah. Itu saja Kak ya.”
“Terima kasih Nur.”
“Kembali.”
Aku menutup gagang telpon dengan hati penasaran. Apa sesungguhnya yang dialami oleh gadis Mesir yang lemah lembut bernama Noura itu. Aku berharap nanti sore atau nanti malam sudah mengetahuinya.


Read More Add your Comment 0 komentar


Menjadi Pendidik Yang Mencerahkan



Mengetahui definsi pendidikan mungkin cukup kita ketahui sekali atau sekali-sekali. Tetapi, menyadari peranan kita sebagai pendidik, butuh kita perbarui setiap kali. Sebab, jika tidak, segera posisi kita bergeser, dari pencipta dalam proses pendidikan menjadi sekedar alat. Ini karena jiwa kita akan sulit mengembangkan proses-proses kreatif atau reflektif dengan hanya mengetahui saja, menjalani saja, atau mengetahui dan menjalani saja. Jiwa kita butuh digunakan untuk menyadari. Kesadaranlah yang mengubah tindakan. Mirip seperti ibadah, katakanlah sholat atau puasa. Mestinya, setiap kali mau melakukannya, butuh kesadaran baru. Sebab kalau tidak, jiwa dan raga kita hanya akan menjadi buruh kewajiban, bukan menjadi kreator proses pencerahan. Karena itu, orang shalat pun masih dibilang celaka bila jiwanya alpa.
Dua Kesadaran Dalam Mendidik
Bila melihat berbagai penjelasan tentang pendidikan, ada sedikitnya dua kesadaran yang perlu kita ciptakan setiap kali mau pergi mengajar. Pertama, kita perlu menyadari pendidik itu mengeluarkan apa yang dari dalam. Ini sesuai dengan arti education sendiri, yaitu e = keluar (out) dan ducare = mengarahkan atau membimbing.
Pada diri setiap siswa itu pasti ada potensi yang tersembunyi. Ibarat tambang emas, emasnya sendiri pasti tertimbun tanah, bebatuan dan pepohonan. Untuk mengeluarkan emas, para penambang punya tradisi membersihkan jalan atau lingkaran tambang lebih dulu, baru kemudian menambang.
Kedua, pendidikan itu menyalakan cahaya. Ibarat energi dalam listrik, energi itu tidak mungkin menghasilkan cahaya dengan hanya dirinya. Untuk menjadi cahaya, perlu ada pembangkit yang mengolah energi dengan menciptakan gesekan, seperti korek api.
Dua kesadaran itulah yang kerapkali menjadi pegangan para tokoh pendidikan yang hasilnya sudah teruji oleh kenyataan. Bagi mereka, ukuran lembaga pendidikan itu bukan wah iklannya, wah administrasinya atau wah kiprahnya di pamerah. Ukurannya adalah, alumninya pada jadi apa di masyarakat?
Kalau alumninya banyak yang bisa mengeluarkan potensi di dalam dirinya dan bisa mengeluarkan cahaya bagi orang lain, berarti lembaga pendidikan atau para pendidiknya di situ OK. Pendidikan di situ berhasil mengejewentahkan esensi pendidikan. Tapi kalau ukurannya baru berapa yang masuk PT negeri, studi ke luar negeri, ranking UAN, dan semisalnya, standarnya dianggap masih rendah. Pengujinya masih berstandarkan tulisan, belum kenyataan. Lebih-lebih kalau menirukan keluhan wong cilik yang sering kita dengar: “Lha wong yang gitu-gitu banyak yang bisa dibayar kok, ngapaian dijadikan kebanggaan?�

Jangan Menjadi Birokrat Kurikulum
Tanpa pembaruan kesadaran, bisa-bisa praktek kita malah membebani siswa, bukan mencerahkan mereka. Mungkin, karena semakin banyak jumlah pendidik yang prakteknya membebani siswanya, di kalangan pendidik sendiri muncul istilah Birokrat Kurikulum sebagai kritik.
Birokrat Kurikulum (BK) adalah sindirian untuk menyebut pendidik yang cara berpikirnya menganut paham “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?�, mirip seperti budaya birokrasi kita zaman dulu�ruwetnya minta ampun tetapi ringkihnya juga minta ampun. BK lebih kerap tampil sebagai sosok yang otaknya ruwet oleh prosedur, metode, dan teknik, sementara visinya, keyakinanya, dan spiritnya miris. BK tidak mau meniru tradisi para penambang yang mendapatkan cara-cara menambang dari alam dengan membersihkan lebih dahulu.
Sebagian pendidik kerap melakukan pengeboran paksa untuk bisa memasukkan materi kurikulum, tanpa berupa membersihkan areal tambang. Padahal, banyak fakta mengungkap bahwa pendidikan di dunia yang lebih banyak berhasil adalah yang menomersatukan pembersihan konsep diri yang kurang atau yang salah, sebelum kurikulum atau buku paket. BK juga kerap menggunakan senjata indoktrinasi sebagai senjata kesayangan, dengan mengingkari fakta kemanusiaan para murid. Mereka dipaksa harus menjadi manusia berinsting malaikat (positifnya) dengan disuruh membuang kejelekannya.
Padahal, hukum cahaya mengatakan bahwa cahaya itu baru keluar setelah ada gesekan plus dan minus dengan cara yang terdidik. Indoktrinasi mempersempit ruang untuk learning, eksperimentasi, dan eksplorasi. Akibatnya apa? Seperti yang sering kita saksikan, pendidikan lebih sering melahirkan orang yang berwacana tentang kenyataan atau melakukan judgment terhadap kenyataan, tetapi kurang mengeluarkan cahaya. Pendidikan lebih pinter menghasilkan para petarung perdebatan ketimbang penggagas dialog, sinergi, dan kebersamaan.
Itulah kenapa pada dinamika lain ada fakta yang membuktikan bahwa orang-orang yang telah berhasil mengeluarkan cahayanya itu justru diawali dengan keberaniannya menerobos, menentang, atau menafsirkan lain SOP pendidikan melalui berbagai gesekan, internally and externally.
Arah Konsentrasi Guru
Berdasarkan praktek yang sudah kita jalankan sebagai pendidik, sebetulanya ada alat sederhana untuk mengaudit seberapa jauh kita sanggup memerankan fungsi pendidik yang searah dengan esensi pendidikan. Alat sederhana itu kita sebut saja arah konsentrasi. Kemana konsentrasi itu kita arahkan selama ini, akan bisa kita jadikan ukuran apakah selama ini kita hanya pendidik BK atau pendidik yang mendidik. Secara umum, konsentrasi pendidik dapat dikelompokkan seperti berikut ini:
Pertama, ada guru yang sebagian besar konsentrasinya mengarah pada pengembangan dan kepentingan murid atau lembaga pendidikan. Mereka mengembangkan dirinya untuk bisa mengembangkan siswanya. Mereka mendefinisikan muridnya sebagai calon aset pembangunan yang luar biasa, bukan sebagai sebagai pengguna jasa.
Menurut sunnatullahnya, guru seperti inilah yang kerap menghasilkan output yang bagus. Guru seperti ini yang biasanya mampu menghasilkan murid-murid yang jauh lebih pintar dari dirinya. Guru seperti inilah yang murid-muridnya tetap tidak mampu merasa lebih unggul dari gurunya, walau pun sudah sekolah kemana-mana.
Kedua, ada guru yang sebagian konsentrasinya mengarah pada kepentingan dirinya, pangkatnya, kariernya, politiknya, dan seterusnya. Banyak kampus atau sekolah yang murid-muridnya ditinggal oleh dosennya ke kota untuk mengejar beasiswa atau gelar akademik yang lebih tinggi supaya nanti bisa naik pangkat.
Sejauh itu diatur oleh sistem dan komitmen untuk mengembangkan lembaga dan siswa dalam jangka panjangnya, itu sangat bagus. Tapi, kalau hanya untuk kepentingan karier pribadi semata, atau hanya untuk pindah ke tempat yang lebih enak, hubungan kita dengan siswa menjadi hubungan manipulatif.
Ketiga, ada guru yang mengarahkan sebagian besar konsentrasinya untuk mengurusi pekerjaan sebagai pengajar. Meminjam ungkapannya Edison, guru seperti ini tenggelam dalam kesibukan jabatan, tetapi tidak menyadari apa tujuan dari kesibukannya. Yang penting mengajar, absen beres, honor beres, dan selesai. Jika kita terlalu sibuk mengurusi hal-hal teknis, tanpa didukung dengan visi dan imajinasi, serta keyakinan, kita akan sulit berkembang dari kenyataan. Kenyataan akan mengubur kita, mirip seperti truk yang berjalan di atas tanah berlumpur. Langkah kita terpendam oleh lumpur kenyataan.
Keempat, ada guru yang mengarahkan sebagian besar konsentrasinya untuk bisa selamat dari tuntutan sistem yang makin mengikat. Biasanya, ini terjadi di sekolah yang berbiaya tinggi. Tuntutan kepada guru tidak saja datang dari kepala sekolah, tapi juga dari yayasan, wali murid, kepsek, murid, media, dan lain-lain. Bagi guru yang kurang waspada (alert), konsentrasinya bisa salah arah. Konsentrasi yang untuk pengembangan murid, supaya potensinya keluar atau supaya cahayanya keluar, menjadi berkurang. Konsentrasinya terkuras untuk kepentingan orang dewasa yang menjadi stakeholder dan shareholder sekolah.
Semua guru memang harus memikirkan muridnya, dirinya, keluarganya, politiknya, pekerjaannya, atau lembaganya. Tetapi yang kemudian membedakan adalah kesadaran manakah yang paling mendominan. Sejauh bukan didominasi oleh kesadaran untuk meng-educate murid, sepertinya kita telah memilih jalan yang salah. Sebelum kesalahannya jauh, mari kita putar arah.
Merealisasikan Kesadaran
Untuk bisa menjadi pendidik yang mencerahkan, pastinya tidak cukup hanya berhenti di kesadaran. Harus kita lanjutkan pada terbentuknya paradigma dan pendekatan yang lebih mencerahkan terhadap berbagai isu-isu pendidikan yang sehari-hari kita hadapi.
BOX
BERBAGAI ISU YANG BUTUH PARADIGMA
DAN PENDEKATAN BARU YANG MENCERAHKAN DALAM PENDIDIKAN
ISU PARADIGMA PENDEKATAN
Sosok Guru Bukan lagi menjadi sosok yang sangat berwibawa sehingga sulit disentuh, tetapi menjadi partner bagi murid untuk mengungkap potensi dan mengeluarkan cahaya Terkadang di depan, di belakang, di tengah, bersama, atau juga mengakui perbedaan secara sehat, termasuk ketika berkonfrontasi.
Aktivitas Di Kelas
Bukan lagi menempatkan siswa secara pasif (kerancang kosong), tetapi murid yang sama-sama aktif dalam menggali dan menguasi materi, dengan berbagai konteks-nya
Menggunakan otoritas guru untuk mendorong siswa memanfaatkan kemajuan zaman, saling bertukar kelEbihan, gentle mengakui kekurangan dan keterbatasan

Pandangan terhadap dunia dan lingkungan

Bukan lagi melihat dunia dengan judgment hitam-putih, dengan menonjolkan egonya, tetapi lebih ke arah bagaimana menyikapi kenyataan dengan pola-pola yang mendukung keharmonisan, kemajuan, dan kemaslahatan banyak orang Menjadi diri sendiri, namun tetap demokratis, terbuka, dan universal, bukan semata tukang mengkhotbahkan demokrasi, keterbukaan, dan keuniversalan, lebih-lebih menjadi dewa agung.

Visi pendidikan

Targetnya bukan semata memaksa murid mendapatkan nilai 10, masuk sekolah internasional, dan semisalnya, tetapi menginspirasi murid untuk membangun imajinasi peranannya di masyarakat melalui motivasi dan nilai Bukan semata menyuruh murid untuk meniru dirinya, tetapi mengajak murid untuk menuju ke yang lebih baik bersama-sama, kalau perlu mendorong murid untuk lebih besar dari dirinya
Kemampuan Murid Bukan semata mengikuti pandangan diknas atau masyarakat mengenai anak pintar-bodoh, tetapi melihat semua anak memiliki kemampuan di hal yang berbeda. Standar diknas bukan standar tunggal Ikut terlibat dalam menggali potensi / kelebihan yang berbeda untuk anak yang berbeda.
Kesalahan Murid Bukan lagi disikapi untuk dilarang, dihukum, diberi nilai merah, atau dianggap pendosa, lalu titik, tetapi disikapi sebagai proses belajar, termasuk ketika harus di-DO. Membantu murid menemukan evaluative action melalui proses belajarnya, yang pasti ada salahnya, nyimpangnya, atau melanggarnya sehingga bisa mengeluarkan cahaya
Budaya Belajar Bukan lagi menciptakan persaingan individual yang saling mengalahkan, diskriminasi anak pintar-bodoh, tetapi persaingan yang memotivasi kompetensi dan prestasi Memberikan kesempatan yang adil bagi semua murid untuk mengaktualisasikan dirinya, tidak hanya menyayangi anak pintar dan menjauhi mereka yang bodoh versi diknas.
Hubungan Hubungan dengan siswa, sekolah, dan wali murid bukan semata hubungan industrial, birokratik, atau politis-manipulatis, tetapi hubungan yang saling tolong-menolong dan mengembangkan, berpikir untuk memberi (giving). Tidak datang hanya untuk mengajar lalu pergi, tetapi sering berdialog, mengajak membangun keakraban profesional yang mendukung kemajuan dan saling mendoakan
Pengembangan
Tidak lagi membatasi diri dengan fakultas di masa kuliah, tanggung jawab yang minimalis, profesional yang sempit, career path yang stagnan, tetapi fokus pada tujuan perjuangan / pengabdian, tanggap terhadap masalah yang relevan, lalu dinamis meresponi perubahan

Menempuh berbagai cara yang sehat untuk mengembangkan diri, dari berbagai aspek, sehingga kiprah bertambah dan nasibnya developing

Jangan Minta Digugu Dan Ditiru
Ketika murid-murid kita saat ini nanti menjadi dewasa, kita mungkin sudah tua atau meninggal dunia. Bayangkan jika misalnya kita meminta mereka untuk menggugu dan meniru kita, apa jadinya? Mereka mungkin menjadi orang yang terbelakang di zamannya karena referensinya kita yang sudah tua. So, jangan meminta digugu dan ditiru.
Ungkapan itu hanya perlu kita pahami sebagai motivasi pribadi untuk terus berusaha menjadi orang yang kredibel dan bisa dipercaya secara komitmen dan moral. Atau, kita terima sebagai penghargaan sosial yang perlu kita hargai. Selebihnya, hubungan kita dengan murid adalah hubungan yang membuka, mendorong, menyalakan, atau mengeluarkan (mencerahkan). Dan yang lebih penting lagi, kita memaafkan masyarakat, pemerintah, dan yayasan yang masih kalah dengan negera Thailand, Philipine, Malaysia, Vietnam, dan Brunei dalam menggaji guru. Sebab, jika tidak memaafkan, jiwa ini akan terbebani dan sangat mungkin kita menjadi pendidik yang membebani. Semoga bermanfaat.


Read More Add your Comment 0 komentar


 

Categories

Makalah (33) Artikel (24) Khutbah (19) Tuntunan (10) Kisah Teladan (8) luar biasa (1)

visitor

Pengikut

© 2010 Dunia Kampus All Rights Reserved Thesis WordPress Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors.info


Tutup [x]